Jumat, 20 Juli 2018
Search :

PEMKAB PACITAN DUKUNG GPEI JATIM KEMBANGKAN KAKAO RAKYAT

Posted : 3 April 2018


Pertumbuhan tanaman kakao rakyat milik petani peserta program pengembangan kakao berkelanjutan ( Sustainable Cocoa Development Programme ) di 5 kabupaten di Jawa Timur saat ini cukup bagus. Program tersebut dilaksanakan Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur sejak Maret 2016, dan salah satu lokasi pengembangan adalah di kabupaten Pacitan.

Bupati Pacitan, Indartato, mengatakan bahwa kakao merupakan salah satu potensi agribisnis di kabupaten tersebut yang telah lama dilakukan petani, tetapi perkembangannya kurang pesat.

Dia merespon positif langkah GPEI Jatim yang telah membina petani kakao di Pacitan, sebagai upaya meningkatkan perekonomian masyarakat di pedesaan.

"Potensi lahan di Pacitan yang bisa dikembangkan untuk tanaman perkebunan antara lain untuk kakao masih cukup luas, monggo kalau ada pengusaha yang berminat menjalin kemitraan dengan petani," ujar Indartato diruang kerjanya, Kamis, 15 Maret 2018.

Hal itu diungkapkan saat beraudiensi dengan ketua GPEI Jatim, Isdarmawan Asrikan, dan Satuan Tugas  Program SCDP Jatim.

Demplot (kebun percontohan) program SCDP di Kab. Pacitan terdapat disentra kakao rakyat di Kec. Tulakan, dimana GPEI Jatim memberikan bantuan bibit kakao sebanyak 1.000 batang per hektar dan pupuk serta pendampingan teknis budidaya kepada petani. Pertumbuhan kakao dikawasan setempat cukup bagus, bahkan sebagian tanaman kakao telah mulai berbuah kendati belum berumur 2 tahun.

Perkembangan yang menggembirakan itu diantaranya dapat dilihat dilahan kakao milik Supomo, salah satu petani peserta program SCDP di Desa Wonoanti, Kec. Tulakan, Kab. Pacitan. Dia memiliki 500 tanaman kakao, sebagian telah berbuah yakni kakao klon MCC 02.

"Kami akan memperluas penanaman kakao, karena penjualan biji kakao cukup mudah dengan harga saat sekarang di pedesaan Rp. 20.000 - Rp. 25.000/kg biji kering. Dengan harga sebesar ini pembudidayaan kakao cukup menguntungkan dengan taksiran hasil panen 1 ton - 1,5 ton/hektar biji kering," ujarnya saat ditemui di Desa Wonoanti - Tulakan - Pacitan, 15 Maret lalu.

Selain di Kabupaten Pacitan, GPEI Jatim mengembangkan program SCDP di Kab. Trenggalek, Blitar, Malang dan Bondowoso, dimana luasan demplot ( kebun percontohan ) di masing-masing kabupaten 10 hektar.

Program tersebut didanai Uni Eropa, dan pelaksanaannya melibatkan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao ( Puslit Koka ) Indonesia sebagai penyedia bibit dan bimbingan teknis penanaman kakao.

Menurut Isdarmawan, keberhasilan program SCDP diharapkan bisa memotivasi Pemerintah Daerah Kabupaten guna meneruskan pengembangan kakao di masing-masing daerah, guna meningkatkan pendapatan petani.

"Kebutuhan biji kakao cenderung meningkat seiring beroperasinya pabrik-pabrik pengolahan cokelat di Jatim seperti PT. Cargill Indonesia dan PT. JeBe Koko. Kebutuhannya mencapai 200.000 ton/tahun, sedangkan pasokan dari Jatim baru sekitar 35.000 ton/tahun," tuturnya.(AAC).


Copyright by GPEI Jatim | Developed by Bagonkdesign.com