Monday, 8 Feb 2010 09:00:00 WIB
Tiongkok Minati Komoditas Jatim

Iklim usaha dan komoditas perdagangan yang dimiliki Jawa Timur mulai menarik perhatian Tiongkok, khususnya pemerintah Provinsi Jilin. Selain menjajaki kemungkinan investasi, mereka juga mempelajari komoditas perdagangan, baik bahan baku maupun olahan di Jatim, yang bisa dipasarkan di Tiongkok.

Ketertarikan itu diungkapkan Deputy Director General Department of Economic And Technical Cooperation Provinsi Jilin He Fulin saat bertemu dengan para eksporter Jatim di kantor Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim kemarin (4/2). Menurutnya, komoditas yang ditawarkan pelaku usaha di Jatim menarik perhatian mereka. 'Saat ini kami masih menjajaki komoditas yang bisa masuk ke negara kami. Akan tetapi secara keseluruhan kami sangat tertarik," katanya

Berdasarkan data BPS ekspor (migas-non migas) selama 2009 tercatat 116,49 miliar dollar AS (turun 14,98%). Sementara Ditjen Anggaran Kementerian Kuangan menargetkan ekspor 2010 sebesar 114,6 miliar dollar AS.

Meski begitu, Menkeu mengakui, surplus perdagangan di tahun 2009 terjadi akibat pertumbuhan ekspor yang masih didominasi bahan mentah. ”Sebab biasanya jika ekspor didominasi oleh barang- barang manufaktur alias produk jadi, maka komponen impornya akan tinggi,” ujarnya.

Hal tersebut menurut Menkeu menyebabkan kinerja ekspor akan sangat bergantung pada fluktuasi harga komoditas. “Karena itu, kita perlu memperkuat perekonomian dengan diversifikasi ekspor,” ujarnya.

Menkeu menambahkan, pemulihan ekonomi pada 2010 akan didorong oleh kontribusi ekspor. Namun, komposisi ekspor tahun 2010 masih akan didominasi bahan mentah, seperti CPO (minyak sawit mentah), batu bara, dan barang tambang lain.

Sementara itu, anggota Komisi XI Andi Rahmat menilai keberpihakan pemerintah terhadap sektor manufaktur selama ini masih minim. “Akibatnya, produk ekspor tetap didominasi oleh bahan mentah sehingga nilai tambahnya lebih dinikmati oleh negara lain yang mengolahnya menjadi produk jadi,” tuturnya.

Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Suryadi Sasmita menuturkan, Indonesia masih memiliki ketergantungan pada impor, baik migas maupun nonmigas. “Kita ekspor bahan mentah,lalu terima lagi jadi barang jadi. Sehingga, kita kalah dalam added value dan pendapatan dibandingkan dengan negara lain. Seharusnnya kita bisa lebih berkreasi untuk membuat barang jadi,” ujar dia. Namun, Suryadi menilai hal itu masih sulit untuk dilakukan karena masih tingginya biaya ekonomi di negara ini. “Kita masih high cost economy dan kurang efisien,” tambahnya. Sehingga pemerintah seharusnya memberikan insentif bagi produk yang diekspor.mj2


Exchange Rate

Currency Buy Sell
USD 9,431 9,530
JPY 108 110
AUD 8,626 8,756
SGD 6,806 6,903
EUR 14,153 14,331
GBP 15,475 15,694

Last update: 01-12-2009

Search

External Links

 


Copyright © 2002 GPEI
Maintain by D~NET, Design by digConcept